News Ticker

Guru di Desa, Kunci Kemajuan Bangsa

Apa yang ada di benak kita jika mendengar populasi Indonesia yang banyaknya 230-an juta jiwa itu? mungkin kita membayangkan sekumpulan wajah melayu dengan berbagai rupa, ada yang bermuka cerah, ada pula yang lusuh. Jika membayangkan penduduk Indonesia berdasarkan kesejahteraannya, di bayangan sebagian kita atau saya pribadi akan muncul sedikit wajah yang berbinar dan bertampang perlente, dan lebih banyak yang wajahnya kusam dan berpeluh keringat.

Bukannya saya melabelkan kalau orang Indonesia itu image-nya lekat dengan penderitaan dan hal menyedihkan, tetapi jika kita mengacu pada data-data yang ada, walau dengan standar yang berbeda-beda, jumlah penduduk miskin dan menengah miskin di Indonesia lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk kaya. Indeks Gini(1) Indonesia yang mencapai angka lebih dari 0,4 (BPS 2013) adalah alarm agar Indonesia berbenah , ketimpangan ekonomi jangan didiamkan, jangan sampai kemiskinan dipelihara dan beranak pinak. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi di Indonesia meningkat karena golongan kaya semakin kaya, bukannya karena jumlahnya bertambah.

Tampaknya kemiskinan ini sepertinya sengaja dipelihara, rupanya memang ada pihak yang senang Indonesia bertahan dengan statusnya sebagai negara berkembang, supaya masih bisa dijadikan laboratorium oleh negara-negara maju. Semacam laboratorium untuk meneliti tentang kemiskinan ekstrim yang tidak bisa ditemui di negaranya. Mencoba mengesampingkan pengaruh asing, walau mungkin intervensinya sangat besar, mari kita lihat orang-orang pribumi yang menyelewengkan kekuatan dan wewenang.

Pihak ini mungkin jumlahnya sedikit tetapi sayangnya berada di titik-titik strategis pengambilan keputusan dan kebijakan negara. Mereka ini bisa hadir dengan berbagai rupa, ada yang bermata belo, bermata sipit, berjanggut lebat, memakai rok mini dan berkerudung.

Korupsi, Pertanda Krisis Integritas

Koruptor ini yang membuat Indonesia masih bercokol di peringkat 114 dari 177 negara dalam indeks korupsi. Selama jumlah koruptor masih banyak, peternakan kemiskinan masih akan terus ada, dipelihara, dan semakin merajalela. Saat ini kita perlu terima kasih kepada KPK yang muncul sebagai jagoan pemberantas korupsi. Biasanya yang ditangkap adalah koruptor-koruptor yang berpengalaman, entah itu pesanan lawan politik atau bukan.

Namun, tampaknya kita tidak bisa terus menerus mengandalkan KPK sebagai tumpuan harapan pemberantasan korupsi, jangan seperti tipikal orang yang berharap Superman datang membantu untuk menyelesaikan semuanya. Kita perlu mengurangi tugas KPK, malah sebaiknya di masa depan KPK itu bubar karena korupsi sudah lenyap dari bumi pertiwi, ini kalau saya diizinkan untuk berandai-andai. Untuk memerangi korupsi semuanya harus terlibat, pemberantasan korupsi bukan hanya dalam bentuk penangkapan koruptor oleh KPK kemudian rakyat Indonesia mendukung dalam bentuk tepuk tangan, bersorak sorai , dan berteriak “hidup KPK!”

Pencegahan korupsi justru perlu dipenetrasikan di sistem pendidikan Indonesia. Perlu kita sadari, bahwasanya yang sudah korupsi dan kemungkinan akan korupsi adalah insan-insan yang merasakan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan Indonesia semestinya peka dengan kondisi aktual bangsa, bukankah omong kosong jika pendidikan yang diterima oleh kita terlepas dari masalah yang ada. Dan menjadi sangat miris jika sistem pendidikan kita secara tidak langsung sudah memproduksi koruptor-koruptor sejak dini, murid-murid memilih mencontek, membeli jawaban saat UN.

Dan yang lebih mengenaskan lagi pihak sekolah memberikan jawaban pada muridnya supaya nama baik sekolahnya terjaga berkat persentase kelulusan yang tinggi, khawatir kepala dinas pendidikan daerah akan “menegur” sekolah jika persentase kelulusannya rendah. Sementara pemerintah membanggakan pendidikan dengan angka-angka pencapaian semu, dan tanpa sadar telur-telur koruptor telah menetas dari ujung ke ujung Indonesia.

Korupsi perlu diberantas dari hulu sampai hilir, sekarang kita perlu pindahkan fokus ke hulunya, semenjak dini. Olehkarenanya anak-anak Indonesia perlu dibekali dan disiapkan menjadi manusia dan warga negara yang baik. Korupsi adalah pertanda dari krisis integritas. Anak-anak sejak dini perlu diajari menjadi manusia yang berintegritas, bahwa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya adalah tujuan mereka hidup di negeri ini. Untuk mewujudkannya, sudah barang tentu kita membutuhkan orang yang berintegritas untuk mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menjadi orang yang berintegritas.

Ingatlah, karena integritas itu bukan hanya diceritakan dan dijelaskan, untuk membentuk generasi muda yang berintegritas dibutuhkan sosok yang memberi contoh langsung serta hidup dan berinteraksi dengan mereka. Sederhananya selain Indonesia butuh orang tua yang mengerti bagaimana membesarkan anak karena pendidikan memang dimulai dari keluarga, kita juga butuh sosok guru yang berdedikasi dan mampu berperan dalam pembangunan sumber daya manusia unggul.

5.00 avg. rating (92% score) - 1 vote
Yuriza Primantara
About Yuriza Primantara (1 Articles)
Lifetime learner| Realists do not fear the results of their study