News Ticker

Siapkah Anak Saya untuk Sekolah/Kuliah di Luar Negeri?

Suasana perkuliahan di kampus RWTH Aachen (Jerman). - Dok. Penulis

Tidak sedikit orang tua di Indonesia yang berharap bahwa anaknya akan pergi ke luar negeri sebagai siswa, dan pulang sebagai Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie. Dan hal ini sah-sah saja sebenarnya, karena memang kenyataan di lapangan berbicara bahwa tidak sedikit orang Indonesia yang bersekolah di luar negeri dan berhasil menjadi jagoan di bidang yang mereka tekuni  (serius, orang Indonesia punya potensi yang gak kalah dengan bule mana pun). Akan tetapi satu hal yang harus kita tahu adalah tidak selamanya dunia itu indah. Ada sisi gelap yang saat ini semakin banyak meliputi lingkungan pelajar Indonesia yang kuliah/sekolah di luar negeri.

Melalui tulisan ini penulis akan mencoba untuk berbagi tentang hal tersebut kepada para orang tua di Indonesia yang ingin menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Dan di akhir tulisan penulis juga akan mencoba untuk memberikan solusi yang bisa para orang tua terapkan ketika para orang tua ingin memberangkatkan anaknya untuk sekolah/kuliah di luar negeri. Perlu juga para pembaca ketahui bahwa sebagian besar contoh (atau malah semuanya) yang penulis berikan pada tulisan ini akan “berbau” Jerman. Hal ini semata-mata penulis lakukan karena Jerman merupakan tempat di mana penulis mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri. Namun demikian, dari berbagai laporan dari teman-teman di negara lainnya, penulis bisa mengatakan bahwa kemungkinan besar berbagai hal yang penulis tulis ini juga berlaku di berbagai negara lainnya (terutama Eropa).

Sisi Gelap Sekolah di Luar Negeri

Pada dasarnya gelap atau terang itu sendiri merupakan sebuah persepsi (tergantung dari bagaimana kita menyikapinya). Namun demikian akan penulis coba bagi beberapa hal yang menurut penulis bukan merupakan hasil yang diharapkan oleh sebagian besar orang tua yang mengirim anaknya untuk belajar di luar negeri.

1. Pulang tanpa “hasil”

Hal pertama yang perlu diketahui tentang sisi gelap kuliah di luar negeri adalah bahwa tidak semua yang berangkat ke luar negeri pulang dengan membawa hasil yang diharapkan. Sebagai contoh, baru 2 minggu lalu penulis mendapatkan kabar bahwa dari 100an orang (atau lebih, penulis kurang tahu angka jelasnya) yang berangkat untuk melanjutkan kuliah S1 ke Jerman dengan menggunakan satu agen pendidikan tertentu di Berlin, hanya kurang dari 10 persen yang berhasil mendapatkan tempat di Universitas/FH yang ada di Jerman. Sisanya? Harus menunggu kesempatan berikutnya, atau terpaksa “pulang habis” ke Indonesia.

Perlu para pembaca ketahui bahwa pemandangan melepaskan teman yang “pulang habis” tanpa menyelesaikan pendidikannya di luar negeri ini bukanlah merupakan sesuatu yang langka (penulis sendiri pun memiliki beberapa pengalaman pribadi mengenai ini). Dan perlu diketahui juga bahwa tidak sedikit mahasiswa Indonesia yang lulus kuliah di luar negeri dengan nilai dan pengetahuan yang pas-pasan, sehingga kesulitan untuk mencari pekerjaan di mana-mana (bahkan sulit untuk melanjutkan sekolah lagi). Karena itu, menurut penulis hal paling pertama yang harus diketahui oleh para orang tua yang mengirim anaknya untuk belajar ke luar negeri adalah:

Mengirimkan anak untuk kuliah/sekolah di luar negeri bukanlah merupakan sesuatu yang pasti berhasil. Pengalaman bahkan mengatakan bahwa lebih banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang gagal daripada berhasil.

2. “Sekolah di luar negeri” berubah menjadi “liburan di luar negeri”

Hal ini sebenarnya tidak hanya terjadi di luar negeri, melainkan juga di Indonesia sendiri. Banyak pelajar Indonesia yang mengubah misinya dari belajar di luar negeri menjadi liburan di luar negeri. Alih-alih menggunakan uang yang dikirimkan oleh orang tuanya untuk belajar, mereka menghabiskan semua cadangan yang mereka punya untuk berlibur secara heboh di luar negeri. Dan yap, penulis tahu dengan pasti bahwa ada beberapa kasus di sekitar penulis di mana ada banyak pelajar yang menghabiskan waktu dengan berfoya-foya tanpa memperhatikan sedikit pun studinya.

3. Terlalu asik bekerja hingga melupakan studi

Sisi gelap yang satu ini biasanya terjadi pada para pelajar Indonesia yang ekonominya “ngepas”. Pada umumnya para pelajar Indonesia di luar negeri (khusunya di Jerman) yang ekonominya pas-pasan akan mencoba untuk mencari pekerjaan sambilan untuk menutupi kebutuhan hariannya. Akan tetapi sayangnya tidak semua pelajar Indonesia yang bekerja menyadari bahwa yang menjadi prioritas utama adalah sekolah, dan baru kemudian bekerja. Di samping itu hal ini diperparah dengan tidak sedikitnya jumlah uang yang bisa dihasilkan dengan bekerja sambilan. Sekedar gambaran, dengan bekerja sambilan di luar negeri, maka kita bisa menabung penghasilan kita untuk membeli gadget yang canggih atau liburan keliling negara (seriusan, bisa sebanyak itu). Efeknya apa? Akhirnya bekerja sambilan tidak lagi menjadi sebuah sambilan, dan studi menjadi sesuatu yang terlupakan.

4. “Pulang habis” karena masalah administrasi

Salah satu yang membedakan antara kuliah di luar dan di dalam negeri adalah masalah administrasi (terutama administrasi kependudukan). Jika dengan berkuliah di dalam negeri kita tidak perlu berurusan dengan ancaman kegagalan studi karena masalah ekstradisi, maka nyaris semua pelajar Indonesia yang kuliah di luar negeri harus berurusan dengan hal ini. Sebagai contoh, di Jerman seorang pelajar lulusan SMA hanya diberikan waktu 2 tahun (1 tahun untuk lulusan S1) semenjak kedatangan untuk bisa diterima di satu Universitas/FH yang ada di Jerman, dan 10 tahun untuk menyelesaikan pendidikan mereka di Jerman. Mungkin waktu 2 dan 10 tahun ini terdengar banyak, akan tetapi kenyataan di lapangan berkata bahwa tidak sedikit pelajar Indonesia di Jerman yang gagal memenuhinya, sehingga pada akhirnya mereka harus dipulangkan secara paksa. Dan penulis yakin bahwa hal ini juga terjadi di semua negara asing yang menjadi tujuan studi para pelajar Indonesia.

5. Menjadi “lebih bule daripada bule”

Hal terakhir yang ingin penulis bagikan tentang sisi gelap kuliah/sekolah di luar negeri adalah tentang masalah mentalitas kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya penulis adalah orang yang memandang bahwa adalah hak setiap orang untuk memilih apakah mereka akan merokok, minum minuman beralkohol, seks bebas, atau apa pun itu. Karena penulis berpendapat bahwa di akhir hari setiap orang akan mempertanggung-jawabkan semua yang dia lakukan. Akan tetapi beberapa peristiwa yang terjadi belakangan menyebabkan penulis merasa harus membagi ini kepada para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di luar negeri:

Salah satu hal yang paling menyedihkan dari para pelajar di Indonesia adalah tidak sedikit dari mereka yang bertingkah lebih bule daripada bule!

Okeh, lagi-lagi hal ini juga sebenarnya sudah banyak terjadi di Indonesia, dan pastinya banget tidak semua pelajar Indonesia di luar negeri melakukan ini. Akan tetapi belakangan penulis banyak mendapatkan cerita bahwa banyak pelajar Indonesia (terutama yang lulusan SMA dan akan/sedang lanjut S1) di luar negeri hidupnya “hancur” gara-gara menjadi lebih bule daripada bule, bersenang-senang tanpa batas, tinggal seatap yang tidak bertanggung jawab dengan lawan jenis, dan melakukan seks bebas yang benar-benar bebas.

Lagi-lagi pada akhirnya ini merupakan masalah preferensi dari tiap orang dan keluarga yang mengirim anaknya untuk sekolah di luar negeri. Tapi percayalah bahwa satu hal yang perlu orang tua ketahui adalah hal ini benar-benar terjadi dan berada tidak jauh dari kehidupan para pelajar Indonesia yang sedang bersekolah di luar negeri (dan penulis tidak melebih-lebihkannya).

5 Tulisan Terakhir Oleh Wahidyan Kresna Fridayoka

5.00 avg. rating (92% score) - 1 vote
Wahidyan Kresna Fridayoka
About Wahidyan Kresna Fridayoka (7 Articles)
Computer Engineer | Learning, dreaming, and enjoying life.